inspiration stories… 

INSPIRATION STORIES

Cerita Inspirasi 1…

(Rizka Permatayakti R.N/ E14100064/ Laskar 7 B.J Habibie Panji 2).

Tahun lalu aku masih seorang siswi sebuah SMA Negeri di kota Semarang. Alhamdulillah prestasiku tidak buruk meskipun aku berasal dari kota Kecamatan kecil.

Pada tahun kedua pendidikanku di sekolah tersebut, di semester pertama prestasiku meningkat tajam. Senang sekali rasanya dapat membuat kedua orang tuaku bangga. Kompetisi terus berlanjut. Hingga di pertengahan bulan Maret 2009, belum lama memang, sekolah kami mengadakan sebuah perjalanan widya wisata.

Beberapa  hari sebelum keberangkatan kami, kondisi fisikku menurun. Aku tidak menghiraukan hal itu meskipun ibu sudah berkali-kali mengingatkan. Akhirnya aku tetap berangkat dengan jadwal konsumsi obat yang ketat. Semua tetap berjalan sesuai rencana awal sampai kami pulang dengan selamat.

Sehari setelah itu kondisi fisikku menurun lagi. Padahal kami sudah harus mengejar materi untuk persiapan ujian akhir semester II. Aku memaksakan diri untuk tetap mengikuti pelajaran di sekolah. Ibu sudah tidak memperbolehkanku. Beliau sangat khawatir terjadi apa-apa padaku. Tapi aku tidak pernah menghiraukan nasihat Beliau.

Akhirnya aku sakit dan tidak dapat mengikuti pelajaran selama 1 bulan. Selama 1 bulan itu, ibu merawatku dengan sangat sabar dan telaten. Tapi aku tidak diperbolehkannya memikirkan pelajaran sedikitpun. Aku marah kepada Beliau dan tidak mau menuruti kata-kata Beliau lagi.

Aku diperbolehkan masuk sekolah lagi setelah pemulihan. Dan ketika aku masuk kembali aku merasa menjadi siswa yang paling bodoh. Harus kesana-kemari mencari guru-guru pengajar untuk meminta jam tambahan dan ulangan susulan. Aku berkali-kali menyalahkan ibu yang tidak memperbolehkanku tetap mencari info tentang sekolah saat sakit. Aku hanya bertahan masuk sekolah selama satu minggu sebelum kemudian harus “off ” lagi dari sekolah karena berpikir terlalu keras.

Ibu kembali merawatku dengan sabar meskipun aku sering membantah dan tidak menuruti nasihatnya. Tapi kali ini aku memilih tidak membantah lagi. Aku merasa bersalah kepada Beliau. Aku tidak ingin membalas kesabaran beliau dengan bantahan lagi dan menjadi anak durhaka.

Ujian semester telah diadakan dan hasilnya pun telah diketahui. Aku sangat takut melihat hasilnya karena kemungkinan besar hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan dan tidak sebaik yang sebelumnya. Hal yang dikhawatirkan pun benar-benar terjadi. Nilaiku jatuh. Aku menangis dan merasa sangat menyesal karena telah mengecewakan kedua orang tuaku terutama ibu. Ibu tetap terus menyemangatiku dan mendampingiku meskipun aku telah mengecewakan Beliau. Akhirnya aku meminta maaf kepada Beliau dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan menjadi pembantah lagi dan semoga aku dapat menepatinya.

Cerita Inspirasi 2… (orang lain)

.(Rizka Permatayakti R.N/ E14100064/ Laskar 7 B.J Habibie Panji 2).

Nenekku adalah anak dari seorang warga sipil biasa. Beliau dididik dengan keras dan terus ditempa dengan pendidikan agama yang ketat oleh kedua orang tua Beliau untuk menjadi seorang yang mandiri dan taat agama.

Pada suatu hari, keluarga nenek mengalami paceklik. Kakek dikeluarkan dari tempatnya bekerja dan nenek juga kesulitan dalam mengatur keuangan karena pemasukan yang sangat minim harus terus dicukupkan untuk menghidupi lima orang anak kakek dan nenek termasuk ayah.

Sebelum di PHK, semua karyawan di beri pesangon. Nenek menggunakan uang tersebut sehemat mungkin. Namun karena kebutuhan yang cukup banyak dan nenek juga telah kebingungan untuk memenuhi kebutuhan keluarga tanpa ada pemasukan lain, akhirnya beliau nekat mencoba untuk berjualan.

Nenek mencari pinjaman uang kesana-kemari kepada para tetangga. Dan dengan tambahan sisa uang pesangon kakek, beliau membeli bahan-bahan pokok apapun yang kira-kira laku dijual. Mulai dari beras, kopi, kacang, minyak goreng, kayu bakar, arang, hingga bumbu dapur, nenek coba untuk menjualnya.

Pada mulanya, nenek hanya berjualan bahan-bahan pokok tersebut dalam jumlah sedikit dan hanya dijual di halaman rumah. Hasilnya lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lalu karena keuntungan yang didapatkan dari berjualan tersebut dirasa cukup besar dan semakin meningkat, kakek membuatkan nenek sebuah warung kecil di depan rumah dan nenek juga menambah jumlah barang dagangan beliau dan mencoba memrogram barang dagangan apa saja yang akan dijual.

Meskipun kakek dan nenek hanya mendapat pendidikan baca tulis dan menghitung, tapi kakek dan nenek selalu mengutamakan pendidikan dan menanamkan landasan agama yang kuat kepada anak-anak beliau. Beliau mengatakan tidak ingin anak-anaknya merasakan nasib seperti beliau. Maka dari itu kakek dan nenek terus berusaha agar anak-anaknya tetap dapat bersekolah setinggi mungkin meskipun harus dibiayai dengan keringat kerja keras membanting tulang siang dan malam.

Karena kegigihan dan kerja keras, semakin lama usaha kakek dan nenek semakin berkembang walaupun pasang surut dalam perdagangan juga tidak dapat dihindari. Langganan nenek pun juga semakin bertambah. Kebutuhan keluarga dapat terpenuhi, sarana dan prasarana untuk berjualan juga semakin lengkap. Kakek dan nenek juga dapat menyekolahkan lima orang anaknya hingga mendapatkan titel sarjana hanya dengan uang hasil dari berjualan tersebut. Warung kakek dan nenek juga dipercaya sebagai agen penyalur minyak tanah bersertifikat di desa. Akhirnya, berdagang menjadi mata pencaharian kakek dan nenek hingga sekarang.

Berkat kerja keras dan usaha terus-menerus tanpa bayang-bayang putus asa, melalui jalan wirausaha, kejayaan pun dapat diraih. Semoga cerita ini dapat menjadi teladan yang baik.